10 Februari 2010

KISAH KENANGAN ANAK DESA

Desa, sebuah lingkungan yang sangat geli bagi sebagian orang. Lingkungan yang dihuni oleh beberapa Kepala Keluarga(KK). Geografisnya pun di domisili oleh 80% persawahan dan perkebunan. Selebihnya baru perumahan warga. Itupun dengan letak yang tak menentu.

Ya... Desa, di situlah aku tinggal di besarkan. Memang hidup di Desa tak seindah di Kota, apa lagi Kota-kota Besar. Tapi harus gimana, aku toh memang dilahirkan dan dibesarkan disitu. Menghabiskan waktu bersama teman-teman, bermain permainan di lokasi manapun, mengaji bersama di saat malam datang. Mungkin suasana itu yamg membuat kami merasa nyaman hidup di lingkungan Desa.

Di balik semua kejadian yang pernah aku rasakan, banyak tersimpan kenangan-kenangan yang membuat aku kepingin kembali ke masa lalu, biarpun sejenak. Perasaan ini, juga dirasakan oleh teman-teman aku yang sekarang sedang mengadu nasib ke berbagai daerah. Pengen rasanya kami sejenak kembali dan melakukan hal-hal yang pernah kami buat di kala itu.

Di antara Ribuan Kenangan, ada satu kenangan yang kerap membayangi, disaat aku mengenang masa lalu ku. Itu lah kenangan yang tak pernah bisa aku lupakan.

Kala yang indah saat itu, hari dimana aku jatuh cinta. Lucu yaaa.....

Gak salah orang menamakan cinta monyet, takutnya lebih besar dari cinta. Hehehe...

Kala itu hari yang damai. seperti biasa, Pulang sekolah aku makan siang terus keluyuran kemana-mana. Mau gimana, yang namanya anak kecil, 80% waktu cuma untuk bermain. Gitu juga aku dulu.

Anehnya, waktu itu aku agak males di ajak maen. Entah kenapa, aku lebih memilih duduk di Pos Kamling. Kebetulan ada kawan yang nemanin aku, jadi aku gak sendirian.

Di saat asyik nyetel-nyetel sepeda (kendaraan berhargaku), tiba-tiba lewat seorang gadis yang cantik. Usianya seumuran sama aku juga. Masih terbayang dengan jelas, disaat itu dia mengayuh sepeda mininya, memakai baju Busana Sopan, dengan jelbab orange yang begitu manis. Sempat aku lihat Tas coklat bersandar di dalam keranjang sepeda'nya.
Aku mencoba menatap dia dengan manja, tau sendiri tatapan anak 10 tahunan, hehe. Gadis itu pun tersenyum padaku.
Sungguh, hampir aku jatuh pingsan, jantungku berdegup dengan kencang.

Ya Tuhan, hampir saja saat itu tangan aku dimakan rantai sepeda, gara-gara terpana menatap gadis tercantik yang pernah aku tatap.

Tak cukup disitu, aku mengajak temanku untuk mengejar Sang Bidadari kecil yang baru saja bikin hatiku lemas.
"Jun, ikut cewek tu yok!", kataku mengajak
"ehmmm... Ayok..." jawab temanku singkat, sambil memutar haluan sepeda dan mendayung dengan kencang.

Bersambung...
( 3 serangkai )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harap Komentar yang baik dan sopan, tanpa ada unsur SARA, terimakasih.